Sejarah Berdirinya Warkop DKI - Info Serba Ada

Breaking

Post Top Ad

Minggu, 08 Oktober 2017

Sejarah Berdirinya Warkop DKI

Sejarah Berdirinya Warkop DKI

iklanet.id - Nama Warkop DKI mungkin sudah tidak terdengar asing lagi, Apalagi setelah munculnya film Warkop DKI Reborn yang membuat orang kembali mengingat sepak terjang grup komedi legendaris tersebut. Sejak debut di layar lebar pada tahun 1979, Warkop DKI telah mencetak 34 film sukses dan menjadi film terlaris di masa itu.

Sejarah berdirinya Warkop DKI atau Warkop Prambors yang juga dikenal dengan Trio DKI ialah grup lawak yang awalnya dibentuk oleh Nanu, Rudy Badil, Dono, Kasino dan Indro. Awal kesuksesan mereka dimulai dari Obrolan Santai di Warung Kopi yg merupakan acara lawakan di Radio Prambors.

Ide awal obrolan [Warkop Prambors] berawal dari dedengkot radio Prambors, Temmy Lesanpura. Radio Prambors meminta Hariman Siregar, dedengkot mahasiswa UI untuk mengisi acara di Prambors. Hariman pun menunjuk Kasino dan Nanu yang merupakan pelawak di kalangan kampus UI untuk mengisi acara ini. Ide ini pun segera didukung oleh Kasino, Nanu, dan Rudy Badil, Kemudian disusul oleh Dono dan Indro.

Warkop DKI

Rudy yang pada awalnya ikut Warkop saat itu masih siaran radio dan tidak berani ikut Warkop dalam melakukan lawakan panggung dikarenakan demam panggung. Rudy mengaku “Pernah sekali saya coba di panggung TIM, Saya menyadari bahwa saya tidak mampu. Setelah itu ya nggak usah saja, Dono pun saat awal manggung beberapa menit pertama mojok dulu, Karena masih malu dan takut. Setelah beberapa menit, Barulah Dono mulai ikut berpartisipasi dan mulai kerasan, Hingga akhirnya terus menggila hingga akhir durasi lawakan. Indro merupakan anggota termuda, Saat anggota Warkop yang lain sudah menduduki bangku kuliah, Indro masih duduk di bangku SMA.

Pertama kali Warkop muncul di pesta perpisahan SMP IX yang diadakan di Hotel Indonesia. Semua personil gemetar atau mengalami demam panggung dan hasilnya hanya bisa dibilang lumayan saja, Tidak terlalu sukses. Namun peristiwa di tahun 1976 itulah pertama kali Warkop menerima honor yang berupa uang transport sebesar Rp 20.000. Uang itu dirasakan para personil Warkop sangat besar sekali, Namun akhirnya habis untuk menraktir makan teman-teman mereka.

Berikutnya mereka manggung di Tropicana. Sebelum naik panggung, kembali seluruh personel komat-kamit dan panas dingin, Tetapi ternyata hasilnya kembali lumayan.

Warkop DKI

Kemudian pada acara Terminal Musikal (asuhan Mus Mualim), Grup Warkop Prambors baru benar-benar lahir sebagai bintang baru dalam dunia lawak Indonesia. Acara Terminal Musikal sendiri tak hanya melahirkan Warkop tetapi juga membantu memperkenalkan grup PSP (Pancaran Sinar Petromaks), yang bertetangga dengan Warkop. Sejak itulah honor mereka mulai meroket, sekitar Rp 1.000.000 per pertunjukan atau dibagi empat orang, setiap personil mendapat Rp 250.000.

Mereka juga jadi dikenal lewat nama Dono-Kasino-Indro atau DKI (yang merupakan pelesetan dari singkatan Daerah Khusus Ibukota). Ini karena nama mereka sebelumnya Warkop Prambors memiliki konsekuensi tersendiri. Selama mereka memakai nama Warkop Prambors, Maka mereka harus mengirim royalti kepada Radio Prambors sebagai pemilik nama Prambors. Oleh karena itu mereka mengganti nama menjadi Warkop DKI, 

Dari semua personil Warkop, mungkin Dono lah yang paling intelek, Meskipun agak bertolak belakang dari sosok pribadi yang sering diperankan di film. Dono bahkan setelah lulus kuliah menjadi asisten dosen di FISIP UI tepatnya jurusan Sosiologi. Dono juga kerap menjadi pembawa acara pada acara kampus atau acara perkimpoian rekan kampusnya. Kasino juga lulus dari FISIP. Selain melawak, Mereka juga sempat berkecimpung di dunia pencinta alam. Hingga akhir hayatnya Nanu, Dono, dan Kasino tercatat sebagai anggota pencinta alam Mapala UI.

Setelah puas manggung dan mengobrol di udara, Warkop mulai membuat film-film komedi yang selalu laris ditonton oleh masyarakat. Dari hasil bermain film, Para personil Warkop mulai meraup kekayaan yang berlimpah. Dengan honor Rp 15.000.000 per satu film untuk satu grup dan mereka pun kebanjiran uang, karena hampir tiap tahun mereka membintangi satu film di dekade 1980-an. Malah beberapa tahun ada dua film Warkop sekaligus. Mereka disebut-sebut sebagai artis dengan honor termahal masa itu.

Warkop DKI

Kelebihan Warkop dibandingkan grup lawak lain adalah tingkat kesadaran intelektualitas para anggotanya. Karena sebagian besar adalah mahasiswa (yang kemudian beberapa menjadi sarjana), Maka mereka sadar betul akan perlunya profesionalitas dan pengembangan diri kelompok mereka.

Hal ini dapat dilihat dari keseriusan mereka membentuk staf yang tugasnya membantu mereka dalam mencari bahan lawakan. Salah satu staf Warkop ini kemudian menjadi pentolan sebuah grup lawak, Yaitu Tubagus Dedi Gumelar alias Miing Bagito.

Saat itu Miing mengaku bahwa ia ingin sekali menjadi pelawak dan kebetulan ia diterima menjadi staf Warkop. Kerjanya selain mengumpulkan bahan lawakan, Melakukan survei lokasi (di kota atau daerah sekitar tempat Warkop akan manggung), Kalau perlu melakukan pekerjaan pembantu sekalipun seperti menyetrika kostum para personil Warkop. Ini dilakukan Miing dengan serius, Karena ia sadar disinilah pembelajaran profesionalitas sebuah kelompok lawak. Miing sempat ikut dalam kaset warkop dan film warkop, Sebelum akhirnya membentuk kelompok lawak sendiri bersama didin (saudaranya) dan Hadi Prabowo alias Unang yang diberi nama Bagito..

Dalam era televisi swasta dan menurunnya jumlah produksi film, Warkop DKI pun lantas memulai serial televisi sendiri. Serial ini tetap dipertahankan selama beberapa lama walaupun Kasino tutup usia di tahun 1997. Setelah Dono juga meninggal di tahun 2001, Indro menjadi satu-satunya personel Warkop. Sedangkan Nanu sudah meninggal lebih lama karena sakit liver dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Halaman